Suatu waktu saya membaca novel balada si roy. Novel yang inspiratif, membuat otak saya menerawang, mengkhayal akan perjalanan. Dimana di bumi ini di waktu yang sama akan berbeda bila di tempat yang tidak sama. Alangkah luasnya dunia ini. Sedikit kuceritakan mengenai perjalananku..
Mulai perjalanan nekad ke Semarang menyusuri pasar johan, berjalan hingga kota lama, berteduh di gereja blenduk, naek angkot keliling Semarang, hingga bermalam di Masjid Agung Jawa Tengah….
Rembang, melihat batik dari Rembang. Motif perpaduan antara cina dan Jawa. Menarik sayang kehilangan generasi penerusnya. Menyambut tahun baru di dermaga, Menikmati lontong tuyuh, berkeliling di pemukiman Cina, mengunjungi makam putri campa, dan bertemu saudara baru. Tak lupa setiap malam menikmati kopi lelet yang aduhai rasanya.
Banten, kini aku ke Banten. Melihat Jakarta untuk pertamakalinya, melihat peninggalan kesultanan Banten yang pernah menancapkan hagemoninya di Nusantara. Surosowan, Kaibon, menikmati ramainya lebaran haji di Masjid agung banten, menikmati lezatnya nasi sumsum yang tiada duanya.
Blitar, melihat candi Panataran, komplek candi terbesar di Jawa Timur, melongok Candi Sawentar, menikmati mie daha Kediri, menyambung silaturahmi dengan teman dan saudara, tak lupa mengunjungi makam sang proklamator serta melihat perpus baru yang hemmm serem
. Belum lagi terjebak di kereta selama 10 jam….
Borobudur, tak hanya candinya saja. menyusuri desa borobudur, melihat potensi budayanya, membuat benda dari tanah liat, disambut tarian anak-anak, belum lagi sambutan masyarakatnya yang ramah, tak lupa melihat sunrise di Borobudur…
Kini masih akan berlanjut lagi….
Hanya sebuah kiasan saja, ibarat dapet hadiah mendadak, …
Suatu ketika ada hal yang harus kita simpan, yang tak ingin dibuka kembali
Kini dihadapan muncul kembali
Harapan tetap ada namun dibaliknya terselip sebuah ketakutan
Menyimpan harapan, berharap muncul kembali, terbit kembali
Sebenarnya ini bukan untuk pertama kalinya saya melihat film tentang Ninja, terutama Naruto yang sering ditonton di tipi. Mengapa saya tertarik tentang filM ninja-assassin? alasanya mudah, di Jogja semua bioskop muter 2012 ma New Moon….kayak gak ada pilihan batin saya.
Okelah akhirnya saya nonton,
Pertama, gila body si Rain membuat saya takjub dan iri hahaha
Kedua, ditengah film denger suara anak kecil, karena saya duduk di kursi B, maka saya dengan mudah melihat bagaimana para penonton yang dibawah noleh kanan kiri nyari sumber suara itu. Gila film sadis kayak gini ditonton anak kecil….ckckckckck komentar temen saya, “gak sekalian aja diajak nonton hantu binal jembatan semanggi tuh…”
Ketiga, nih film intinya tentang perang, crat-cret-crot darah dimana-mana (hampir sebagian besar adegannya gitu), sambil meneguk “mirinda merah” sambil liat darah disana-sini serasa kayak minum ….
Keempat, ni film cocok buat yang cari hiburan alias gak usah mikir ribet, pokoknya dari awal aksi terus lah (disini si Rain ngomongnya dikit).
Kelima, saya akhirnya tahu sapa si “bocah” itu. Ternyata dia anak yang diajak nonton ma papa-mamanya (kira-kira umurnya sih 4-5 tahunan, moga-moga dia banyak tidur daripada nontonnya
)
Ok sekian berita saya habis dari nonton ninja assassin…ntar kapan-kapan dilanjutin lagi…
Gila malam ini dingin sekali
Ditemani segelas cappucino dingin
Entah kenapa pikiran menerawang jauh kebelakang
Sedang mengingat apa yang terjadi beberapa waktu lalu
Aneh ya, tiba-tiba hati ini merasa panas
ketika kenangan masuk tanpa permisi
sudah terjadi, ini sekarang hidupku
oYA ada efek sampingnya:
kadang dalam mengingat masa lalu ada beberapa hal yang terbawa, yaitu rasa puas dan penyesalan. Sampaii sekarang masih ada penyesalan. Hanya sedikt namun nylekit hohoho
Tak apalah ketika kita dicintai dan mengharap lebih namun yang terjadi tak sesuai dengan harapan, itulah yang dipilih.
Hehehehe biarlah kenangan ini tetap ada disini, hanya kenangan yang tersisa. Gak papalah, setidaknya gak usah ekskavasi buat ngaduk-aduk hati ini.
O ya besok harus ke borobudur nemenin bule. ahad liat pacuan kuda.
Met malam semua.
Enak kalo mendung walau suasanan suram. Melihat langit yang gelap, hujan turun dan bau tanah sesudahnya….aku suka itu.
Suatu hari saya pernah merasa “mangkel” gara-gara tulisan saya diedit habis-habisan sama orang lain. Hal itu terjadi ketika saya sedang ingin merasakan sampai sejauh mana saya bisa menulis suatu artikel, apalagi saya adalah orang yang punya masalah dengan yang namanya menulis. Hasilnya adalah: tulisan saya diobok-obok. Itu juga menurut pendapat saya pribadi . Sebenarnya bila tulisan saya tidak layak dimuat ya tidak apa-apa, karena dari sana saya bisa tahu kekurangan saya. Anehnya walau telah diedit habis-habisan tulisan saya malah terpampang di halaman website, isinya pun tidak lebih tulisan orang lain, dan nama saya malah terpampang disana sebagai pembuat artikelnya. Malu saya, seolah-olah saya seperti membayar orang lain untuk menulis artikel. Hahahaha saya semakin tambah “mesem” ketika banyak orang yang “mengapresiasi” artikel tersebut. Makin malulah saya….
Sudahlah gak perlu dibahas lagi, anggep aja itu adalah sebuah pelajaran berharga bagi seorang yang tidak tahu apa-apa seperti saya ini. Toh saya juga masih bisa nulis di skripsi saya kok, walau banyak revisi. Udah ah udah maghrib, kopi udah mulai dingin, ok segitu aja. trims.
Mungkin saya sudah beberapa kali mengunjungi Candi Borobudur. Saat pertama kali ke sana, waktu itu dalam rangka survey kegiatan intern jurusan. Pandangan pertama terasa biasa saja. Bagi saya pribadi, Candi Borobudur lebih terawat daripada candi-candi lainnya (kecuali Prambanan tentunya). Jelas terawat, masa Candi yang (oleh sebagian besar masyarakat Indonesia) masuk ke dalam jajaran tujuh keajaiban dunia tidak terawat sama sekali. Bisa-bisa malah memalukan bangsa.
Kedua kalinya dalam rangka kuliah lapangan. Mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dengan masing-masing anggota berjumlah dua orang. Tugasnya cuma satu, mendeskripsikan relief yang ada di Borobudur. Tiap kelompok mempunyai tema masing-masing, saya mendapat tema mengenai peranan wanita. Hasilnya adalah, bingung. Saya kesulitan mencari panil-panil relief yang akan di deskripsikan, dan lagi yang paling bodoh adalah, saya tidak tahu sama sekali bagaimana cerita yang tertuang di dalam relief Candi Borobudur. Sudah dapat ditebak, saya terpaksa mengulang matakuliah tersebut pada semester depannya.
Entah lupa pada semester berapa, saya diajak seorang kawan untuk membantunya dalam kegiatan peta hijau. Benar peta hijau mandala Borobudur. Saya tak dapat menolak (diantara rasa setia kawan dan kasihan
). Dalam kegiatan tersebut saya dan beberapa kawan mensurvey kawasan Taman Wisata Candi Borobudur. Mulai dari halaman paling belakang sampai parkir depan. Menarik! dari kegiatan tersebut saya mengamati apa saja yang ada di Candi. Mulai dari reliefnya, perilaku pengunjungnya, pedagang asongan, dan masalah konservasi. Sebelumnya saya telah sering mendengar mengenai isu atau hal-hal seperti masalah kelestarian candi dari dalam kelas. Kini saya berkesempatan mengalami dan mengamati apa yang terjadi di sana secara langsung.
Dari pengalaman yang telah dialami lama-kelamaan membentuk sebuah sudut pandang pribadi mengenai Borobudur. Pertama, jangan pernah lupakan Borobudur. Kita harus mengakui candi Borobudur ikut “mengkatrol” nama Indonesia di dunia internasional. Belum lagi ketika Borobudur menjadi salah satu daftar Warisan Dunia oleh UNESCO, namun apakah kita punya kesadaran untuk melestarikannya? atau hanya sekedar sebagai pengagum saja? mari renungkan…
